Beranda/Dongeng/Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita
Sampul Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita GO-DONGENG · DONGENG
Dongeng Buku cerita bergambar

Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita

Pagi hari telah menyapa seorang gadis cantik sudah terbangun dari tidurnya, ia sedang menyeduh segelas teh hangat untuk dirinya, gadis itu bernama dara Dara, ialah seorang gadis cantik dengan memiliki sejuta mimpi di hid...

Buka halaman cerita
Cerita dimulai

Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita

Ilustrasi adegan 1 dari cerita Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita

Pagi hari telah menyapa seorang gadis cantik sudah terbangun dari tidurnya, ia sedang menyeduh segelas teh hangat untuk dirinya, gadis itu bernama dara Dara, ialah seorang gadis cantik dengan memiliki sejuta mimpi di hidupnya, dara tinggal di dalam sebuah rumah yang besar. Dara adalah gadis cantik yang terlahir di dalam keluarga yang sangat berkecukupan, bahkan keluarga itu bisa dibilang sangat kaya. Namun dara sang gadis cantik ini tidak bisa berjalan ia harus menggunakan bantuan kursi roda untuk membantunya bergerak ke suatu tempat, sehingga gadis cantik itu merasa tidak percaya diri dan merasa diacuhkan oleh keluarganya sendiri. Kedua orang tua dara selalu bersikap acuh padanya, karena orang tuanya merasa tidak ada yang bisa diharapkan dari gadis yang harus hidup dengan kursi roda tersebut. Sedangkan kakaknya yang memiliki fisik normal mungkin saja malu memiliki adik dengan kondisi seperti dara. Setiap harinya dara selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk menggambar, dara memang senang menggambar sejak ia kecil, gambaran miliknya pun selalu bagus hasilnya, terkadang dara juga menghabiskan waktunya untuk menggambar di taman, dengan kursi rodanya ia bisa pergi ke taman. Dara sangat senang jika ia menggambar di taman karena dengan itu ia bisa menghilangkan pikiran buruknya yang kadang menyesali keadaannya. Suatu pagi dara berniat untuk keluar dari kamarnya, namun tanpa dia sadari kursi rodanya tersangkut ke sudut meja kamarnya, ia pun memaksa kursi roda itu untuk maju namun hal itu justru membuatnya terjatuh dari kursi rodanya

Ilustrasi adegan 2 dari cerita Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita

‘tolong.. ’ dara berteriak meminta tolong ‘ tolong..’ dara kembali berteriak meminta tolong Namun tidak ada seorangpun yang menggubris teriakannya, sehingga tak ada satupun yang datang untuk menolongnya. Karena hal itu dara menangis dan ia merasa kecewa karena tidak ada satupun yang peduli padanya, ia berusaha menaiki kembali kursi rodanya sendiri, ia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai kursi roda itu, hingga akhirnya ia berhasil duduk kembali di kursi roda, ia pun kemudian memutuskan untuk pergi ke taman dengan kursi rodanya sambil terus menangis. Saat di taman, tangis dara semakin pecah dan saat sedang menangis, tiba-tiba seorang gadis seusianya menghampiri dara, kondisi gadis itu sama seperti dara, ia menggunakan kursi roda juga. Gadis itu pun mengulurkan tangannya mengajak dara berkenalan ‘hana’ ucap gadis itu menyebutkan namanya ‘ dara’ sahut dara menyebutkan namanya mereka berkenalan satu sama lain, meski baru saja kenal namun mereka sudah terlihat sangat akrab, mereka pun berbincang dan saling bertukar cerita, terutama dara, ia akhirnya bercerita perasaannya selama ini yang merasa terlahir tidak berguna. Hana yang mendengar cerita dara itu pun berkata ‘ dara.. dengar kan aku, tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlahir tidak berguna. Mungkin kita memang tidak bisa berdiri tegak seperti manusia lainnya. Tapi, kita masih memiliki hak untuk merasakan bahagia. Jadi mulai sekarang cobalah untuk menerima dirimu sendiri, dara ’ hana menasihati dara agar ia tidak merasa bahwa dirinya tidak berguna lagi. ‘ maksud kamu menerima diriku sendiri bagaimana hana ?’ tanya dara yang tidak mengerti kata kata hana itu ‘ cobalah kau renungkan sendiri maksud perkataanku, dan satu lagi mulai sekarang buang jauh pikiran buruk mu itu dara, kau harus bahagia ’ ucap hana berlalu pergi meninggalkan dara di taman sendirian Dara pun terdiam sejenak namun ia tetap tidak mengerti maksud perkataan hana, ia pun kemudian memutuskan untuk pulang, sesampainya dirumah dara mulai merenungi kata kata yang diucapkan oleh hana. Dara berpikir bagaimana ia dapat menerima keadaan dirinya sedangkan orang di dekatnya saja tidak mendukungnya sama sekali. Dara pun kembali mencoba mencerna perkataan hana secara perlahan, ia berpikir dan sesekali ia menangis ketika teringat keluarganya begitu mengacuhkan dirinya karena kondisinya yang seperti itu. Namun dara tak ingin larut dalam kesedihannya, ia pun mencoba mengalihkan pikirannya, kini ia memikirkan bagaimana cara untuk mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang pelukis yang terkenal dimana hasil karyanya akan dipajang di dalam pameran besar. Dara pun akhirnya mendapatkan sebuah ide ‘ hm.. sepertinya untuk mewujudkan mimpiku, aku harus banyak berlatih melukis dan membuat banyak lukisan yang bagus’ ucap dara pada dirinya sendiri. ‘Baiklah aku akan memulainya besok hari, sekarang aku akan beristirahat untuk menyiapkan tenaga ku’ lanjut dara berkata pada dirinya sendiri. Dara pun bergegas ke ranjang tidurnya dan beristirahat. Keesokan harinya dara mulai menyiapkan segala keperluannya untuk melukis, ia menyusunnya dengan rapi ‘oke sudah.. sekarang waktunya untuk melukis semangat..’ ucap dara menyemangati dirinya sendiri.

Ilustrasi adegan 3 dari cerita Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita

Kini setiap harinya dara menyibukan dirinya dengan berlatih melukis dan membuat lukisan lukisan yang indah, karena kesibukannya itu dara mulai melupakan pikiran buruk tentang nasibnya yang terlahir tidak sempurna, dara pun kini mulai mengerti maksud perkataan hana saat ditaman itu . Hingga akhirnya dara sudah menghasilkan banyak sekali lukisan lukisan indah, ia pun diam-diam ia sering memposting lukisannya ke media sosial, tak disangka banyak orang yang menyukai hasil karya lukisannya, ia pun senang karena orang orang mengomentari lukisannya dengan baik. Hingga suatu hari ada seorang pelukis datang ke rumah dara, ia datang untuk menemui dara dan meminta dara untuk bergabung dalam acara pameran lukisan yang akan diadakan oleh dia dan timnya. Orang itu menyampaikan maksud kedatangannya pada kedua orang tua dara, dan betapa terkejutnya orang tua dara mendengar ucapan pelukis tersebut, orang tua dara tidak menyangka bahwa anak gadis yang mereka acuhkan itu rupanya bisa menghasilkan karya lukisan yang indah. Dara yang mendengar kabar itu pun sangat bahagia tanpa ragu ia pun menerima tawaran sang pelukis untuk bergabung bersama tim pelukis itu untuk membuat sebuah acara pameran.

Ilustrasi adegan 4 dari cerita Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita

Setelah pelukis itu pulang, orang tua dara menghampiri anaknya itu dan menangis meminta maaf menyesali perbuatannya karena selama ini perlakukan mereka yang tidak baik pada dara selama ini, dara pun senang karena akhirnya ia bisa membuktikan pada orang tuanya bahwa dirinya bisa membuat sesuatu yang besar, mereka pun berpelukan dan menangis di tengah rumah yang besar itu. Hingga akhirnya hari pameran lukisan itu pun tiba, dara dan orang tuanya pun menghadiri pameran tersebut bersama sama, mereka takjub melihat berbagai lukisan indah yang dara buat dipajang dalam pameran yang diberi tema Mimpi Sang Dara. Orang tua dara menangis haru karena bangga atas pencapaian gadis nya itu, dara yang melihat itu pun senang karena akhirnya ia bisa mewujudkan mimpinya walau dengan kondisinya yang tidak sempurna

Ilustrasi adegan 5 dari cerita Cerita Dongeng Dara Sang Pemimpi | Hikmah Jangan Pernah Berkecil Hati Karena Keadaan Kita
✦

Terima kasih sudah membaca bersama Go-Dongeng.

Ruang berbagi

Pesan untuk cerita ini