blog post.jpg
SHARE THIS POST

Download Aplikasi Ngedongeng di



Musim semi segera tiba. Sebuah keluarga kecil sedang merencanakan sebuah rencana musim semi yang indah. Mereka merencanakan sebuah petualangan kecil bersama. Musim dingin tahun ini berlang sangat lama, begitu dingin dan membuat semuanya membeku melebihi tahun-tahun sebelumnya.

Menyambut musim semi merupakan tradisi yang selalu dilakukan secara besar-besaran di pulau ini. Semua warga merayakan dengan memajang lampu-lampu yang indah. Bahkan tak jarang mereka akan begadang sampai malam untuk menunggu semi keesokan harinya. Warga akan mulai keluar rumah untuk pertama kalinya setelah musim dingin yang mencengkeram mereka selama ini.

Namun, pemandangan pemandangan berbeda di musim dingin tahun ini. Musim dingin yang ada berbeda dari musim dingin biasanya, dingin yang menyerang benar-benar membuat warga kerepotan. Banyak pohon dan hewan ternak yang mati karena terserang dingin yang berkepanjang.

Banyak warga yang mengatakan bahwa ini merupakan kutukan dari Pulau Topeng.

“Ini pasti karena kutukan itu, Pulau itu.” ujar beberapa warga yang sedang berkumpul.

“Aku tak tahu pasti legenda itu tapi, sepertinya aku mulai percaya” sahut warga lain.

Sudah lama legenda itu tersimpan. Legenda Pulau Topeng dan kutukannya. Banyak yang tak percaya dengan legenda itu, namun seiring berjalannya waktu dan semua peristiwa yang ada membuat beberapa orang kehilangan keraguannya dan mulai percaya pada legenda itu.

Semua legenda itu berasal dari sebuah cerita yang tak jelas asal usulnya. Hanya sebatas cerita dari mulut ke mulut. Namun, hal itu segera menyebar dan bertahan hingga kini.

Diceritakan bahwa dahulu kala di sebuah pulau yang tak jauh dari sana. Tinggalah seorang tua, sendirian tanpa teman, saudara ataupun keluarga. Ia hidup sendiri tanpa siapapun disisinya. Orang bilang ia diasingkan karena sebuah penyakit aneh yang dideritanya. Entah penyakit apa hingga ia harus diasingkan.

blog post.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di



Menurut cerita, para nelayan yang singgah di tempat itu akan selalu menceritakan hal-hal yang menyeramkan. Mengenai manusia setengah binatang yang hidup dengan merangkak, bergelantungan dan lainnya. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang mengatakan bahwa sosok itu akan membunuh siapapun yang mendekati pulaunya.


Hari menunjukan pukul 12.00 siang, menunujukan matahari seharusnya sedang terik-teriknya. Namun, tidak! Taka da Matahar di langit. Semua Nampak dingin dan masih dalam kebekuan. Tak ada tanda-tanda musim semi akan tiba. Para penduduk hanya termenung sendu di dalam rumahnya. Musim semi yang di nantikan tak kunjung datang. Padahal mereka telah memepersiapkan banyak hal.

Suatu hari muncul sebuah berita bahwa dunia sedang mengalami masalah. Banyak orang mati tiba-tiba, begitu pula hewan dan tumbuhan. Keadaan dunia sedang sangat tak stabil. Sampai-sampai ikan-ikan di laut mati dan terdampar ke tepian. Burung dan beberapa jenis belalang mati secara tiba-tiba dan berjatuhan di bebe kota. Pemandangan yang menakutkan.

“Bagaimana ini? Apa yang sebenarnya terjadi..” ujar salah satu orang.

“Aku juga tak tahu” sahut diantara yang lain.

Kekacauan di mana-mana.

blog post.jpg

Dalam ketidak pastian Dunia ini, muncul seorang tua renta, berpakaian aneh, jenggot yang panjang seperti janrang di potong. Tubuh kurus kering seperti orang penyakitan saja. Ia datang di tengah-tengah kota yang ramai, namun bukan itu tujuannya. Ia mendatangi sebuah gedung bertingkat, entah ada berapa lantai di sana. Pintu masuknya saja tinggi menjulang, lebar dan begitu indah bak gerbang menuju negeri dongeng. Yang boleh masuk hanya kereta kuda yang memiliki empat roda, memiliki tanda pengenal di belakangnya. Ketika masuk harus memberikan tanda pengenal khusus.


Orang tua itu tetap berdiri di depan gedung itu, menatapnya namun tak berbuat apa-apa. Hal ini membuat semua pasang terheran-heran. Sudah beberapa hari Ia duduk di depan gedung itu, tanpa berbuat apapun. Hanya menatap siapapun yang keluar masuk gedung saja. Sesekali Ia datangi petugas jaga, berbisik padanya. Petugas jaga itu hanya mengangguk dan menggelengkan kepala, sesekali menjawab namun hanya “Ya” atau “Tidak” saja.

Dunia sedang kalut namun beberapa hari ini berita di Tv hanya menyiarkan kelakuan orang tua itu, yang hanya berdiri di depan Gedung itu saja.

“Mengapa berita di Tv yang muncul hanya itu-itu saja?!” ujar seorang ayah di salah satu keluarga. “Biasalah, yang memang di cari kan yang seperti itu Yah.., cari saja berita di Internet pasti yang muncul itu-itu saja. Itulah makanan dunia sekarang.” Sahut salah seorang anggota keluarga.

Jauh di dalam hutan yang lebat, para penebang hutan sedang melakukan tugasnya.

“Tebang yang sudah di tandai saja!” teriak seorang Mandor.

“Baiklah kami mengerti!” jawab beberapa orang yang ada di sana.

Tanpa di sadari orang tua yang sebelumnya berdiri di depan gedung muncul di tengah-tengah mereka. Ia berteriak-teriak dan berkata “Pergiiiii…! Ini rumahku. Ini alamku”. “Hai pak tua pergilah! Jangan mengganggu” ungkap sang mandor. “Tidak! Kalian yang pergi. Atau kalian akan ku perlakukan sama seperti pohon-pohon itu” mengatakannya sambil menunjuk kayu-kayu yang bergeletakan. Para pekerja mulai ketakutan dengan perkataan orang tua itu. Akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk menebang pohon demi keselamatan mereka.

blog post.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di



Dunia sedang dilanda kekacauan. Banyak Negara mengalami kekeringan, kelaparan, banjir, longsor dan lain sebagainya. Di sisi lain para pemangku kebijakan yang lalu lalang menggunakan mobil itu justru lalai dengan nasib masyarakatnya. Yang lainnya malah hanya menerima keadaan yang tak menentu tanpa berbuat apapun.


Orang tua itu kembali ke depan gedung megah itu lagi. Ia yang sebelumnya hanya berdiri sendiri kini ditemani oleh beberapa orang. Dengan hanya diam dan menatap ke arah gedung. Hanya berdiam diri saja. Penampilan mereka berbeda dengan orang tua itu. Mereka lebih rapi dalam hal pakaian saja, entah yang lainnya.

Waktu terus berlalu, Dunia semakin kacau dengan banyak bencana di mana-mana. Kerumunan di depan gedung itu juga semakin banyak. Semakin banyak hingga lokasi itu mulai tak cukup menampung jumlah mereka. Aparat kepolisian mulai berjaga di depan gedung, takut sewaktu-waktu kerumunan itu akan mengamuk. Namun semua itu tak kan terjadi. Aksi ini adalah aksi diam para manusia sadar akan pentingnya lingkungan. Mereka hanya meminta perlindungan, bukan penyerang yang akan mengamuk tanpa alasan di gedung itu. Mereka hanya meminta perlindungan dari tangan-tangan jahat yang kan merusak dunia mereka.

Tak membawa senjata seperti orang-orang di hutan yang memebawa parang, gergaji hingga traktor. Tak seperti para nelayan yang membawa bahan peledak hanya untuk ikan yang tak seberapa jumlahnya. Dan tak seperti para orang-orang yang lalu lalang keluar masuk gedung dengan membawa surat dan segepok uang di dalamnya.

Hanya sebuah perlindungan untuk alam mereka, untuk kehidupan mereka, untuk hutan mereka, untuk laut mereka, dan untuk alam semesta.

blog post.jpg